Stressed Out

Judul artikel ini terinspirasi dari lagu fenomenal dari twenty one pilots yang berjudul “Stressed Out”, yang mana lagu tersebut menceritakan tentang kerinduan akan kehidupan yang bebas tanpa diiringi rasa tertekan. 

Stressed Out
Stressed Out
Memang benar analogi dewasa itu seperti apa yang terlihat pada video klip stressed out (jika belum lihat, coba cari di youtube). Di kondisi nyata, saya pun mengalami hal yang sama. Banyak sekali tantangan, permasalahan bahkan semua hal yang tadinya tak dapat diperkirakan kemudian muncul begitu saja secara tiba-tiba. Ketika kekuatan kita tumbuh dengan cara yang datar, kemudian beban bertambah dengan spontan, tentu saja hal ini menjadi pertanyaan besar untuk kita bisa menjawab semua tantangan itu.

Selain nalar dan kesabaran, kita juga dituntut melakukan inovasi yang bisa merubah keadaan disaat kita diterjang masalah. Meski idealnya memang harus bisa problem fixing secara mandiri, disatu sisi kondisi otak yang tertekan memang tak pernah mampu untuk mengeluarkan ide terbaiknya sehingga biasanya hanya akan berujung pada titik kebuntuan. Stress dan depresi, adalah dua hal yang sering saya temui di dunia kerja. Meskipun porsinya hanya 5 persen dari total kehidupan saya didunia kerja. Tapi saya fikir hal itu amat sangat mengganggu psikis saya serta amat sangat menguras energi dan karir saya. Apalagi saya seorang yang tak pernah bisa melalaikan tanggung jawab, itu menjadi poblem besar dalam diri saya.

Saya menyadari bahwa KPI bekerja saya bukan hanya dilihat dari bagaimana saya bekerja, tapi dari bagaimana hasil atau impact yang ditunjukkan oleh pekerjaan saya. Terkadang saya merasa sudah bekerja lebih dari kemampuan saya, namun hasil yang didapat tak membuat saya bangga atau berada dibawah KPI yang ditetapkan si pemberi kerja. Dilain sisi saya juga sering bekerja seadanya dan tanpa motivasi, tapi malah hasil yang dicapai sangat memuaskan. Disitu saya merasa ada yang aneh dengan apa yang saya kerjakan, karena memang idealnya saya wajib mendapatkan lebih banyak ketika saya mengusahakan lebih tinggi.

Lantas, apa yang salah?

Tiap orang dapat berfikir tentang mengapa, bagaimana dan hal apa yang membuat kekonyolan itu terjadi. Saya sendiri tak mampu menjawabnya karena memang pekerjaan yang saya lakukan mencakup hal-hal yang kompleks, hal yang menyangkut pekerjaan orang lain serta dibumbui sedikit keberuntungan. Saya tipe orang yang mengandalkan taktik dan sedikit teknik. Dimanapun saya bekerja, saya ingin bekerja cerdas dan tepat sasaran, disatu sisi hal itu tak cukup untuk menambah jam terbang saya.

Lantas apa yang saya butuhkan?

Tutor! yah, selama ini saya terlalu banyak bekerja secara otodidak, mempelajari segala sesuatu yang nampaknya sulit dengan cara-cara aneh hingga saya memahami sendiri bagaimana hal itu bisa terjadi. Saya mungkin bisa menganggap diri saya berhasil, karena memang saya tak punya acuan atau pembanding untuk itu. Dan saya juga bisa menyebut diri saya gagal ketika saya memang tak bisa memiliki pencapaian yang saya harapkan.

Saya amat merindukan seorang tutor, guru, dan orang yang bisa memandu saya untuk membuat saya lebih berkembang dan berkembang. Usia saya masih terlalu muda untuk menghabiskan banyak waktu dengan riset dan cara-cara otodidak. Saya sadar saya terlalu banyak menghabiskan banyak waktu untuk itu, sehingga pencapaian saya tak maksimal.

Lantas, tutor seperti apa yang ideal?

Bagi saya, tutor idaman itu ketika mampu mendeskripsikan sikap layaknya seorang keluarga. Melihat bagaimana ketidaktahuan orang adalah kenistaan bagi dirinya, melihat bagaimana ilmu memang harus diwariskan tanpa takut mengurangi rejeki dan ilmunya sendiri.

Saya juga ingin belajar dari orang-orang yang punya ritme yang santai, tajam dan jenius. Karena secara pribadi saya tak begitu menyukai kedisplinan yang teramat didewakan. Saya merindukan tutor yang seperti teman, bahkan yang benar-benar bersahabat.

Namun, siapkah saya untuk itu?

Sebuah pertanyaan yang berat, dan saya memang bukan orang yang terampil. Saya tak begitu cakap dalam mengatur hal-hal yang bersifat tak spesial. Saya lebih banyak bekerja berdasarkan insting, naluri dan pengalaman. Saya kira itu salah, tapi ketika saya merubah ritme saya, maka outputnya akan sangat melenceng. 

Jika pun perubahan memang sudah menjadi sebuah keharusan, saya sangat siap untuk itu. Saya punya ambisi, saya punya mimpi dan saya yakin punya masa depan yang cerah jika saya mau mengusahakannya. Mungkin suatu saat saya bisa bertemu dengan seorang tutor. Seperti halnya Nabi Muhammad bertemu dengan Malaikat Jibril, seperti kaum yunani dilahirkan diantara pemikir-pemikir cerdas. Dan seperti orang-orang jawa yang diberikan pencerahan oleh wali-wali Allah yang berhati mulia. 

Saya merindukan seorang tutor, untuk membimbing jalan saya. Setidaknya memberikan banyak masukan tentang bagaimana seharusnya saya bertindak. Saya terjebak dalam perasaan stress karena pekerjaan yang tak terukur. saya begitu tak bernafsu untuk berkarir ketika saya melihat kebebasan dari para jiwa-jiwa enterpreneur, jiwa-jiwa yang sebenarnya menjadi passion saya. Meski menyedihkan, disatu sisi saya ingin seperti mereka, hidup dengan kehendak sendiri meski lika-likunya lebih berat. Tapi saya juga manusia yang rakus akan ilmu. Saya hanya ingin maju kedepan dengan pencapaian-pencapaian baru yang mungkin bisa saya dapatkan didunia kerja. Saya fikir keputusan saya membingungkan, tapi saya memang ingin menyatukan level saya dengan dunia kerja internasional. Karena saya harus kreatif, aktif dan berkembang setiap waktunya, Karena saya ingin menjadi Manusia yang seutuhnya!
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih