With Ears To See And Eyes To Hear

With Ears To See And Eyes To Hear


Dengan telinga untuk melihat dan mata untuk mendengar. Kata-kata bijak populer ini menggambarkan bahwa untuk merasakan sesuatu, seseorang harus memiliki rasa peka terhadap apa yang mereka hadapi. Sejatinya mata digunakan untuk melihat dan telinga digunakan untuk mendengar. Namun filosofi sejati yang sebenarnya justru berbanding terbalik. Ketika kita mampu mengendalikan hati kita, maka kita juga akan mampu mengendalikan indera kita diantaranya adalah mata. Mata merupakan anugerah terbesar yang diberikan Tuhan terhadap kita. Dengan mata ini kita bisa melihat keindahan yang ada didunia. Kita juga mampu melihat keburukan yang ada disekitar kita. Begitupun sebaliknya, telinga kita difungsikan untuk mendengar apapun yang menenangkan fikiran kita maupun yang membuat kita merasa sedih. Namun apapun fungsi sejati yang dimiliki oleh kedua indera tersebut, kita tak bisa dikategorikan manusia yang baik jika tak memahami filosofi lainnya.

Lantas mengapa kita harus menguasai hal sebaliknya?

Menurut pengalaman pribadi saya, indera yang kita miliki masih memiliki sisi fiktif dan kebohongan yang nyata. Mungkin kita bisa melihat semua kejadian yang baik ataupun buruk dilingkungan kita. Namun reaksi kita terhadap semua kejadian yang ada didepan kita nampaknya masih begitu dingin. Sudah seharusnya kita perlu membangkitkan perasaan manusiawi kita yakni dengan menyadari diri kita bahwa apapun yang terjadi pada kita dari kita lahir sampai saat ini adalah kehendak tuhan. Tuhan memiliki kuasa yang besar atas jalan hidup setiap orang. Maka, bersikap apatis terhadap situasi negatif yang kita lihat merupakan sebuah kesalahan terbesar. Kesadaran diri merupakan kunci utama untuk kita bisa keluar dari perspektif keliru yang hingga kini selalu diyakini benar. Kita perlu perubahan dari dalam diri kita sendiri. Merubah sikap apatis kita menjadi individu yang lebih bijak dan peka terhadap apa yang kita temukan. Dalam beberapa kesempatan kita perlu melakukan sebuah inisiatif kecil seperti menjaga kejujuran, tanggung jawab dan keakraban terhadap sesama. Hal-hal kecil itu merupakan dasar untuk kita memulai hidup yang jauh lebih baik. 

Empati dan Kejujuran Diri

Percayalah bahwa semua orang yang menjaga kejujurannya senantiasa akan ditentramkan hatinya. Meski dalam keadaan sulit sekalipun ketika kita tetap menjaga sikap jujur ini maka tuhan tak akan tinggal diam begitu saja. Yakinlah bahwa kejujuranlah yang membuat perdamaian sejati antar umat terjadi. Sikap jujur menjadi dasar yang menjembatani tiap tindakan kita, seperti ketika kita melihat ketidakadilan yang terjadi dilingkungan kita. Maka dengan dasar kejujuran ini kita akan mampu lebih baik menangani masalah tersebut. Empati sendiri selalu tersimpan pada hati orang-orang yang senantiasa menjaga ketulusannya. Rasa empati sendiri bisa dilatih dari kita melihat sesuatu. Gunakanlah mata untuk mendengar, karena mata yang hanya digunakan untuk melihat takkan pernah mengerti rasa sakit yang diderita orang lain. Takkkan pernah bisa mendengar keluh kesah setiap orang lemah yang ada dilingkungan kita. Rasa empati akan membawa kita pada sebuah lingkungan yang benar-benar ideal. 

Hentikan sikap acuh dan kepentingan pribadi

Mari gunakan telinga kita untuk melihat. Telinga kita berfungsi untuk mendengarkan semua kalimat tiap bibir orang-orang yang tak berdosa. Jika kita hanya gunakan telinga kita untuk mendengar. Maka apalah artinya kita yang memiliki pengetahuan luas namun masih bersikap individualis? Bukankah sikap yang seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang tak memiliki tujuan hidup positif? Ketika kita mengintegrasikan telinga kita dengan hati nurani kita, maka akan tercipta sebuah cerminan ketulusan hati yang begitu kuat. Kita bisa melihat apapun yang orang lain harapkan walaupun kita hanya mendengarkan sebait dua bait kalimat. Sekali lagi dalam hal ini tiap orang mengharapkan aksi nyata kita untuk lebih peduli dan peka terhadap ribuan rintihan yang kita dengar setiap harinya. Jika kita menutup telinga kita, kita masih bisa memvisualkan keinginan mereka dengan cara yang tepat dan bijaksana. 

Jadi, sudahkah kita menggunakan mata kita untuk mendengar dan telinga untuk melihat?


Sumber Inspirasi penulisan:

Sleeping With Sirens - With Ears to See And Eyes to Hear
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih