Sabtu, 27 April 2013

Cerpen Pendidikan Remaja Indonesia

Share on :
Cerpen Pendidikan Remaja Indonesia – Dalam karya sastra cerpen, selain mampu menghibur kita sebagai pembacanya. Ternyata ada juga cerita-cerita dalam cerpen yang mengandung nilai edukasi atau pendidikan yang tinggi. Cerpen jenis inilah yang selalu menjadi bahan ajar ketika kita belajar di sekolah dalam mata pelajaran bahasa atau sastra indonesia. Selain mengutamakan sisi positif yang tinggi, pada cerpen pendidikan juga memiliki banyak sekali teka-teki yang sangat asyik untuk dipecahkan. Hal itulah yang menjadikan cerpen pendidikan begitu menarik untuk kita semua.
Cerpen Pendidikan
Cerpen Pendidikan
Cerpen Pendidikan merupakan salah satu jenis cerpen yang tidak memiliki sangkut paut dengan percintaan namun lebih pada persahabatan dan kehidupan yang rukun antar umat manusia. Selain itu, pokok utama dari cerpen pendidikan adalah hikmah yang ada di dalamnya dimana pada kesimpulan cerpen ini selalu menguak satu sisi positif seperti Nasihat, Ajaran maupun semua hal yang bersifat membangun dan jauh dari kata negatif. dengan spesifikasi yang sedemikian sulitnya, membuat Cerpen ini juga sangat sulit untuk kita temukan. Rata-rata pengarang cerpen ini hanyalah mereka yang benar-benar sangat cinta dunia sastra ataupun mereka yang peduli dengan kemajuan bangsa indonesia ini. Oleh karena itu sebagai generasi muda yang sangat diharapkan oleh bangsa ini, maka kita seharusnya juga lebih memprioritaskan prestasi kita ketimbang kebahagiaan semata.  Memahami begitu pentingnya Cerpen pendidikan ini untuk kita, maka dari itu pada kesempatan kali ini blog Firman Way akan berikan sebuah cerpen tentang memiliki nilai pendidikan yang pastinya sangat seru ceritanya. Bagi yang penasaran maka langsung saja baca ceritanya dibawah ini.

Nyanyian Jalanan Kota

Bising suara tak jua berhenti menemani hari kelamku. Aku seakan membisu dalam keramaian kota tersebut. 500 rupiah, 1000 rupiah.. ah, aku tidak bisa mengharap banyak hanya dengan memelas dan menyanyi tak karuan. Memang malu rasanya, saat melihat anak-anak sebayaku pergi bersekolah dengan rajinnya. Aku ingin sekali melanjutkan pendidikanku, seperti yang lainnya. Tapi, harapan tinggalah harapan. Meskipun cita-citaku setinggi langit, tapi biaya tak ada? Yah, mau bagaimana lagi? Emak sakit TBC akut dan sudah tidak kuat lagi mencari kayu bakar di hutan. Abah? Abah pergi entah ke mana sejak aku berusia 5 tahun.

“Nin! Dapat berapa hari ini?” tanya Dea, teman mengamenku.
“Tidak banyak, De. Cuma dapat 10 ribu, apa cukup buat beli obat Emak? Padahal.. sudah dari tadi pagi kita mengamen.” kataku.
“Alhamdulillah, Nin. Aku dapat 20 ribu, 10 ribunya untukmu, ya! Emakmu harus cepat sembuh.. Ini ambilah!” kata Dea, dengan senyum manisnya.
“Tidak ah De, keluargamu bagaimana?” tanyaku sungkan.
“Aku masih ada cukup uang di celenganku. Lagipula, persediaan nasi di rumah juga masih ada, kok Nin!” jawab Dea. “Kamu juga sudah banyak menolongku.” lanjutnya.
Aku tercengang mendengar perkataan Dea. “Apa kamu yakin, De?” tanyaku.
“Tentu! Cepat ke apotek, kasihan Emak. Sebentar lagi sudah larut, lho. Aku juga mau pulang.” kata Dea, sambil menyerahkan uang kepada ku.
“Terimakasih, De. Insyaallah aku akan menggantinya secepat mungkin.” kataku sambil berlari meninggalkan Dea, menuju apotek.

Sesampainya di apotek, aku segera menanyakan obat untuk Emak. Ternyata, harga obat tersebut Rp. 18.000. Berarti, tidak cukup untuk membeli beras. Aduh, besok pagi Emak makan apa? Nanti.. Emak tambah sakit karena nggak makan. Aku melongo sendiri, dan membuat Apotekernya kesal.
“Jadi beli atau enggak?” kata Apoteker.
“I.. Iya.” kataku sambil menyerahkan uang. Seusai beli, aku pun segera kembali ke rumah.
“Huh, apa semua orang kaya kasar seperti itu?” gumamku dalam hati. “Emak.. Emak.. ini Nina belikan obat. Emak harus minum obatnya, biar lekas sembuh.” kataku.
“Terimakasih, Nak.” kata Emak, yang terus batuk tiada henti. Emak ingin sekali membantumu bekerja. “lanjut Emak.
“Sudahlah, Mak. Biar Nina saja yang bekerja. Emak hanya perlu istirahat.” kataku, sambil memijat kaki Emak. “Sekarang, Emak tidur, ya! Sudah malam.” kataku sambil menyelimuti Emak dengan selimutku.

Akupun segera menuju kamar kecil kumuhku. Aku hanya dapat memandangi langit-langit kamarku yang bocor. Jujur saja, aku tidak dapat tertidur lelap dengan mudahnya. Kalau tidak bisa tidur, aku selalu membaca buku gratis yang aku pinjam dari Perpustakaan kecil di dekat rumahku, atau menulis puisi. Ya, dengan penerangan sederhana dari lampu minyak. Emak belum sanggup untuk membayar listrik.

Keesokan harinya, aku segera pamit ke Emak untuk bekerja. Aku pun mulai mengamen bersama Dea, seperti biasanya. Hasil mengamen juga sedikit seperti biasanya. “Aku ingin sekali bersekolah, aku tidak mau selamanya mengamen..” gumamku.
“Aku juga, Nin! Bagaimana, kalau kita pergi ke SMP di sana? Kita kan bisa ikut mendengarkan dari luar.” ajak Dea. Aku pun mengangguk. Ya, sejak hari tu, aku dan Dea selalu menyempatkan waktu untuk bersekolah “diam-diam”. Tentunya dengan rasa takut diusir oleh Pak Satpamnya, hehe.

Suatu hari, aku bertemu dengan seorang perempuan bernama Melline. Perempuan itu ramah sekali, dan mengajakku dan Dea berteman. Melline selalu meminjamkan buku pelajaran kepadaku, juga Dea. Melline juga selalu belajar bersama kami di waktu istirahat. Aku senang sekali, bisa terus mencari ilmu sambil bekerja untuk Emak.
“Nina.. Dea.. Apa kalian tidak bersekolah? Kalian anak yang cerdas, sayang sekali kalau tidak bersekolah.” kata Melline.
“Aku putus sekolah sejak kelas 6 SD, bersama Dea. Ibuku tak punya cukup biaya untuk sekolahku. “kataku sedih.” Jangan khawatir! Kalian pasti bisa bersekolah di sini sesegera mungkin. “kata Melline.
Esoknya, ada beberapa orang berseragam PNS mendatangi rumahku. “Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” kataku dengan sedikit takut.
“Kamu benar Nak Nina?” tanya Bapak tersebut dengan halus. “Iya, Pak. Saya Nina.” jawabku heran.
“Begini, Bapak dengar dari putra bapak, Melline, bahwa kamu dan temanmu Dea, sangat ingin bersekolah. Apa itu benar, Nak?” tanya Bapak tadi.
“Benar, Pak, tapi Saya tidak mampu untuk membayar biaya sekolah.” kataku.
“Baiklah, Bapak di sini, selaku Kepala Sekolah SMPN Citra Bangsa akan menyalurkan bantuan bersekolah untukmu. Asalkan, kamu harus berjanji untuk dapat memanfaatkannya dengan baik.” kata Bapak itu.
Aku girang bukan kepalang. Tak henti-hentinya aku mengucap terimakasih kepada Bapak tersebut. Sejak hari itu, aku dan Dea kembali bersekolah. Aku juga tidak lagi mengamen dan meminta-minta. Pihak sekolah sudah memberikan bantuan kepada Emak untuk berobat tiap bulannya, juga Dea. Aku menjadi semakin yakin, bahwa baik buruknya takdir seseorang, ditentukan oleh kekuatan tekad untuk meraih cita-cita mulia masing-masing.
 
Itulah diatas Cerpen Pendidikan yang semoga saja mampu membuat kita jadi lebih baik dan lebih berguna bagi bangsa Indonesia. Tanpa adanya pendidikan yang baik, tentu saja negara ini tidak akan bisa maju. Oleh karena itu kita sebagai generasi muda harus lebih aktif dalam berbagai hal terutama yang berbau positif. Meskipun pada kenyataannya saat ini lebih banyak remaja yang mengarah ke hal-hal negatif. Namun bagi kita yang sadar akan masa depan, pastinya akan memilih jalan terbaik yakni dengan memberikan segala kemampuan berfikir kita bagi bangsa Indonesia ini.

Baca Juga Cerpen Menarik Dibawah Ini :
  1. Cerpen Islami
  2. Cerpen Patah Hati
  3. Cerpen Nasihat
  4. Cerpen Pengorbanan
  5. Cerpen Kehidupan
  6. Cerpen Romantis
  7. Cerpen Sedih
  8. Cerpen Motivasi
  9. Cerpen Persahabatan
  10. Cerpen Lucu
  11. Cerpen Cinta

0 komentar :

Poskan Komentar

 
;