Minggu, 28 April 2013

Cerpen Nasihat Kehidupan

Share on :
Cerpen Nasihat Kehidupan – Karya sastra di jaman modern seperti sekarang ini memang terus berkembang sesuai kebutuhan. Jika pada jaman dahulu pantun yang selalu menjadi karya sastra favorit, di tahun 2013 kali ini justru Cerpen yang memiliki banyak penggemarnya. Kondisi tersebut lebih di dasari oleh minat membaca para remaja sekarang yang sudah semakin baik setiap waktunya. Hal ini juga didukung fasilitas teknologi yang sangat komplit dan membuat kita lebih mudah menemukan bahan bacaan secara cepat dan efektif. Berkembangnya dunia Internet juga menjadi pemicu mudahnya cerpen-cerpen terbaru itu ditemukan. Namun agar hasilnya optimal, tentu cerpen yang kita baca juga harus disortir. Mengutamakan cerpen edukasi yang berisi Nasihat jauh lebih baik ketimbang cerpen yang hanya bercerita hiburan semata.
Cerpen Nasihat Kehidupan
Cerpen Nasihat Kehidupan
Cerpen Nasihat yang berkembang sekarang ini memang sangat kurang ketimbang perkembangan cerpen cinta dan humor. Meski demikian, kita tak boleh begitu saja meninggalkannya. Hikmah dan motivasi yang ada di dalam cerpen nasihatlah yang menjadi salah satu favorit para pembaca cerpen semua. Selain itu sisi positif yang tinggi juga akan membuat tindakan yang kita lakukan menjadi lebih berarti, terarah dan bijak. Sedangkan untuk nasihatnya sendiri setiap cerpen memberikan isi yang berbeda-beda dan itu yang menjadi sisi unik ketika kita membaca sebuah cerpen. Bagi kita yang penasaran dengan topik cerpen apa yang akan dibagikan oleh blog Firman Way pada kesempatan kali ini. Maka langsung saja baca cerita lengkapnya dibawah ini.

Harapan Si Daun Kecil

Keadaaan semakin memanas. Sedikit gambaran betapa tingginya derajat suhu yang tercipta dari terik sang mentari di lingkungan itu. Tak tampak suasana kehidupan disana. Seolah-olah semua organisme yang ada telah lenyap terbakar teriknya mentari. Kalau pun masih ada yang tersisa, pasti mereka sedang mencari cara guna bertahan hidup dari penyiksaan. Benar, penyiksaan berupa panasnya suhu lingkungan yang selalu terjadi setiap kali kalender masehi berganti.
Di sisi lain, pohon-pohon lebat serta semak-semak subur telah menguning. Kehijauan yang semula tercipta sudah tak ada. Hanya menyisakan ranting-ranting pohon yang rapuh yang tak kuat untuk menopang kuatnya hembusan angin yang menerpa.

“Klekk..” Suara patahnya ranting pohon terdengar nyaring. Walaupun itu hanya berupa ranting pohon yang seukuran jari kelingking anak balita. Tampak seekor belalang yang membuat ranting pohon tadi patah. Tanpa memedulikan ranting pohon yang patah, belalang itu terus melompat untuk melanjutkan perjalanannya. Namun tak lama kemudian, Belalang itu berhenti pada salah satu ranting pohon yang cukup kokoh. Di sana tanpa diduga, ia melihat masih ada satu daun kecil bewarna hijau muda dan daun itu masih menempel lengket di ranting pohonnya. Belalang menjadi heran, dalam hati ia bertanya-tanya mengapa daun tersebut bisa bertahan. Kemudian si belalang mengahampiri daun tersebut.
“Permisi daun kecil, apa yang kamu lakukan disini?” Tanya si belalang
“Tentu aku selalu disini, Tuan Belalang. Aku tak seperti engkau yang bisa berpindah tempat dengan sesuka hati.” Jelas si daun tersebut
“Tapi, mengapa engkau tidak ikut ke bawah sana bersama teman-temanmu?” Si belalang bertanya dengan menunjuk ke tanah.
“Kalau hal itu, aku tidak tahu kapan aku akan turun kesana. Semua itu masih rahasia bagiku. Dan yang pasti, aku akan turun juga ke sana menemani mereka.” Lagi-lagi si daun menjelaskan dengan lengkap kepada si belalang. Seketika, Belalang pun terdiam setelah mendengar jawaban dari daun kecil tersebut. Ia mencoba memahami makna yang terkandung dalam pernyataan yang diucapkan daun kecil beberapa detik yang lalu.

Hembusan angin menerpa dengan membawa beribu-ribu kesejukan. Cukup untuk membuat udara disekitarnya menjadi agak dingin. Badan si daun kecil pun seolah-olah bergoyang mengikuti arah hembusan angin. Si belalang masih diam, namun tak lupa menikmati udara sejuk yang tercipta dari terpaan hembusan angin.
“Jadi apa yang kamu lakukan di cuaca panas begini?” Tegur si daun memecah keheningan.
“Aku hanya berjalan-jalan sambil mengamati keadaan lingkungan sekitar sini.” Jawab si belalang yang mulai bisa menemukan rangkaian kata miliknya.
“Bagaimana hasil pengamatanmu, Tuan Belalang?” Tanya si daun dengan bijak.
“Ya.., dapat engkau lihat sendiri disekelilingmu. Tanah berdebu serta retak-retak menghiasi seluruh permukaan di bawah kita. Sementara itu, tiang-tiang yang penuh kehijauan di atasnya, sudah tak lagi kutemui.” Tutur si belalang kepada si daun.
“Sungguh keadaan yang buruk.” Kata si daun
“Terus, kapan semuanya berakhir? Hmmmm…” Tanya belalang sambil menghela nafas panjang.
“Andaikan teman-temanku yang disana masih bergelantungan sepertiku, mungkin penderitaan ini tidak separah ini.” Kata si daun dengan nada sesal. Wajahnya pun tak henti-hentinya menatap ke tanah, tepat ke arah teman-temannya.
“Memang, apa yang terjadi dengan teman-temanmu? Bukankah jika sudah tua mereka pasti akan gugur ke tanah pada akhirnya?” Tanya si belalang yang nampak belum memahami pernyataan si daun.
“Anda benar Tuan, Tapi teman-temanku tak semuanya gugur secara alami. Kebanyakan mereka gugur karena sebatang besi yang bergerigi tajam di seluruh tepiannya. Besi itu yang memotong tiang-tiang kehijauan serta memaksa teman-temanku berguguran lebih cepat.” Jelas si daun dengan nada lembut walaupun dalam hatinya sangat sedih kehilangan teman-temannya.
“Maaf, jika pertanyaanku membuat engkau sedih, wahai daun kecil.” Ucap si belalang.
“Tak apa. Aku harap organisme yang bisa mengendalikan besi mematikan itu suatu saat sadar. Kalau aku beserta teman-temanku juga ingin hidup. Bukan cuma hidup saja, aku juga ingin menjadi penyelamat kehidupan di permukaan bumi ini. Tapi…”
“Tapi apa?” Tanya si belalang
“Tapi yang terpenting adalah mari kita berdo’a kepada Tuhan agar menurunkan berkahnya dari langit.” Ujar si belalang sambil tersenyum penuh akan harapan.
“Maksud engkau hujan?” Tanya si belalang masih belum mengerti.
“Tentu. Hanya hujan berkah paling nikmat dari Tuhan. Semua senang jika hujan turun.” Jelas si daun.

Si belalang tersenyum mendengar perkataan dari si daun. Ia merasa belum pernah bertemu sosok seperti si daun yang begitu memahami akan kehidupan. Si belalang merasa tersentuh hatinya setelah mendengar cerita dari si daun.
“Engkau memang bijak, wahai daun muda. Aku berhutang banyak kepadamu dan juga kepada teman-temanmu” Puji si belalang.
“Sudahlah. Hidup bukan untuk menyuburkan sifat egois. Saling membantu antar sesama makhluk Tuhan yang terpenting.” Terang si daun.
“Semoga apa yang engkau harapkan bisa terwujud.” Kata si belalang.
“Amin.” Ucap si daun.

Setelah cukup lama berbincang-bincang, mereka berdua akhirnya mengakhiri pembicaraan dan berpisah. Si belalang meneruskan perjalannnya, Sementara si daun tetap pada tempatnya, melekat di ranting pohon sambil menikmati hembusan angin.

Beberapa hari kemudian, do’a serta harapan si daun pun di dengar oleh Tuhan. Dari langit yang terselimuti awan hitam kelabu, turunlah hujan yang selama ini diharapkan oleh si daun dan seluruh organisme di lingkungan kering dan tandus tersebut. Dengan begitu kehidupan dan kehijauan di lingkungan itu bisa di mulai kembali. Namun, jika besi-besi bergerigi tajam masih belum bisa dijinakkan akan terasa sia-sia seluruh pengorbanan dan harapan si daun beserta teman-temannya.

Cerpen Karangan: Al Hanif

Dari Cerpen Nasihat diatas tentunya akan banyak pelajaran yang bisa kita temukan. Meskipun relatif sangat singkat, namun cerpen diatas memiliki esensi yang lebih ketika kita kaji lebih dalam lagi. Berbagai tindakan positif yang ada pada cerpen tersebut sudah selayaknya kita contoh dan beberapa tindakan yang kurang pas dengan kaidah semestinya bisa kita tinggalkan. Meskipun banyak sisi unik dari cerpen diatas, namun yang terpenting adalah pesan yang disampaikan oleh cerpen tersebut sehingga bisa kita evaluasi ke dalam diri kita agar nantinya kita bisa menjadi individu yang baik untuk diri kita sendiri, teman maupun keluarga.

Baca Juga Cerpen Menarik Dibawah Ini :
  1. Cerpen Islami
  2. Cerpen Patah Hati
  3. Cerpen Pengorbanan
  4. Cerpen Kehidupan
  5. Cerpen Pendidikan
  6. Cerpen Romantis
  7. Cerpen Sedih
  8. Cerpen Motivasi
  9. Cerpen Persahabatan
  10. Cerpen Lucu
  11. Cerpen Cinta

0 komentar :

Poskan Komentar

 
;